KKN STAINU Temanggung Resmi Dilepas

Share

Temanggung, stainutmg.ac.id – Kuliah Kerja Nyata (KKN) STAINU Temanggung resmi dilepas oleh panitia pada Rabu sore (8/5/2019). Pelepasan itu bertempat di Desa Kedawung, Kematan Kandangan, Kabupaten Semarang.

Hadir Kepala Bidang Litbang Bappeda Temanggung Dr. Danang Purwanto, S.Sos, M.Si., Ketua STAINU Temanggung Dr. H. Muh. Baehaqi, Ketua PCNU Temanggung KH. Muhammad Furqon Masyhuri, Ketua LP3M STAINU Temanggung Moh. Syafi', perwakilan Polsek, Koramil, Pemerintah Kecamatan Kandangan, Kepala Desa setempat, Dosen Pembimbing Lapangan Hamidulloh Ibda, Nasih Muhammad, Khamim Saifuddin, mahasiswa KKN dan masyarakat setempat.

Kepala Bidang Litbang Bappeda Temanggung Dr. Danang Purwanto dalam sambutannya mengapresiasi capaian KKN STAINU Temanggung yang fokus pada penguatan kelembagaan keagamaan. "Ada beberapa KKN di Temanggung, selain STAINU ada ISI, Undip, IAIN Surakarta. Selamat dan sukses STAINU yang sudah berhasil dalam KKN di Kecamatan Kandangan ini," katanya.

Sementara itu, Ketua STAINU Temanggung Dr. H. Muh Baehaqi mengatakan KKN STAINU Temanggung dari awal difokuskan pada penguatan kelembagaan dan sukses mencapai target karena semua program terlaksana. "Anak-anakku semua pasti mendapat banyak pengalaman. Pengalaman lahir maupun batin. Kami mengucapkan terima kasih kepada Pak Camat, Kepala Desa dan semua elemen yang mendukung suksesnya KKN STAINU Temanggung," bebernya.

Sementara itu, Ketua PCNU Temanggung KH. Muhammad Furqon Masyhuri menyampaikan beberapa pesan saat memberi muaidhah hasanah. "Puasa itu ibadah paling istimewa. Sebab, ada tataran ibadah yang pahalanya 7 kali lipat, 70 kali lipat, namun khusus puasa, Allah dalam hadis qudsinya, puasanya itu hanya untukku. Artinya, pahala puasa dilipatgandakan dan hanya Allah yang tahu," katanya.

Kemudian, Gu Furqon juga menegaskan bahwa perintah puasa di surat Albaqarah, hanya diperuntukkan untuk orang beriman, amanu. "Mengapa tidak orang yang bertakwa, manusia, atau orang saleh, karena iman itu sangat berat. Ciri orang beriman itu harus mempertemukan tiga perkara. Pertama adalah tasdiq bilqal, membenarkan dengan hati, di dalam dada. Kedua, ikrar billisan, ikrar, pembenaran, pengucapan dengan lisan. Apakah hanya itu? Ternyata tidak. Ketiga adalah amal bil arkan, menjalankan dengan anggota badan dari apa yang diyakini dalam hati, dan yang diucapkan dengan lisan," lanjutnya.

Beliau juga menceritakan beberapa nabi yang melakukan puasa. Mulai dari Nabi Adam, Nuh, Daud, dan lainnya. Usai acara mauidhah, kegiatan dilanjutkan dengan buka puasa bersama. (*)

Add Comment