Folklor : Harta Karun Nusantara

Share

Oleh Hamidulloh Ibda

Penulis adalah Wakil Ketua I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan STAINU Temanggung, Ketua Bidang Media Massa, Hukum, dan Humas Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah.

Diakui atau tidak, folklor sebagai salah satu khazanah budaya nusantara kini hampir punah. Padahal, folklor tak sekadar soal budaya, namun juga karya sastra lama. Legenda, pantun, mantra, dongeng, dan lainnya juga sama nasibnya, karena hampir punah ditelan gelombang zaman di era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 ini. Di tengah kegelisahan itu, ada angin segar yang berhembus dari Temanggung. Dengan adanya Java International Folklore (Jifolk) dalam rangkaian Festival Sindoro Sumbing di Temanggung, folklor kini semakin taji dan membumi.

Selama ini, banyak orang salah paham tentang folklor, karena dianggap budaya syirik, klenik, gugon tuhon, mistis, dan melanggar substansi agama. Paradigma ini menjadikan bangsa Indonesia inferior karena tak memegang teguh dua kebenaran, yaitu kebenaran agama dan kebenaran bernegara yang di dalamnya ada budaya, tradisi, dan kebiasaan adiluhung. Sebab, bagaimana mungkin agama bisa tegak tanpa adanya budaya?

Maka perlu dekonstruksi pemahaman mendasar tentang folklor yang kini mulai dilirik bangsa asing. Sangat pardoks jika kita tak mengenal budaya pendiri bangsa, dan justru orang asing melirik bahkan melestarikannya. Dus, di mana letak nasionalisme dan substansi Pancasila kita?

Kita harus ingat, Presiden Soekarno dalam Pidato Trisakti tahun 1963 menegaskan tiga hal. Pertama, berdaulat secara politik. Kedua, berdikari secara ekonomi. Ketiga, berkepribadian secara sosial budaya. Pesan sakral ini harusnya melandasi kehidupan berbangsa dan bernegara dengan ruh Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945. Salah satu transformasinya dengan mencintai, nguri-nguri, dan mengglobalkan tradisi Nusantara yang agung.

 

Folklor: Harta Karun Nusantara

Setiap bangsa memiliki harta karun berupa budaya, tradisi, ajaran, dan lainnya yang sangat berbeda dan memiliki keunikan tersendiri, salah satunya folklor. Secara bahasa, KBBI V (2019) menyebut folklor sebagai adat istiadat tradisional dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun tetapi tak dibukukan, atau ilmu adat istiadat tradisional dan cerita rakyat yang tak dibukukan.

Idiom folklor, menurut George (1995) diperkenalkan pertama kali sejarawan Inggris, William Thoms dalam sebuah surat di London Journal pada tahun 1846. Menurut cacatannya, idiom folklor berasal dari Bahasa Inggris “folklore” yang berarti serangkaian praktik untuk penyebaran berbagai tradisi budaya.

Folklor berasal dari dua kata yaitu folk dan lore. Dundes (1934-2005) mendefinisikan folk sebagai sekelompok orang dengan ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan, sehingga dapat dibedakan dari kelompok lain. Ciri-ciri pengenal itu seperti warna kulit, taraf dan agama sama. Artinya, folk bersinonim dengan kolektif yang juga memiliki ciri-ciri pengenal fisik atau kebudayaan sama, serta mempunyai kesadaran sebagai kesatuan masyarakat. Sedangkan lore adalah tradisi folk, artinya sebagian kebudayaannya diwariskan turun temurun secara lisan atau melalui suatu contoh melalui gerak isyarat atau alat pengingat (Danandjaja, 1998:53-54).

Brunvand (1998) membagi folklor ke dalam tiga macam. Pertama, folklor lisan atau fakta mental. Misalnya, bahasa rakyat, seperti logat, ungkapan tradisional, peribahasa dan sindiran, pertanyaan tradisional dikenal sebagai teka-teki, sajak atau puisi rakyat, seperti pantun dan syair, cerita prosa rakyat (mitos, legenda, dan dongeng), dan nyanyian rakyat. Kedua, folklor lisan atau fakta sosial. Seperti kepercayaan dan takhayul, permainan dan hiburan rakyat, teater rakyat (lenong, ludruk, dan ketoprak), tari rakyat (tayuban dan jaran kepang), adat kebiasaan (sambatan, gugur gunung, pesta selamatan, dan khitan), upacara tradisional (tingkeban, turun tanah, dan temu manten), dan pesta rakyat tradisional (merti dusun, nyadran, bersih desa). Ketiga, folklor bukan lisan atau artefak. Misalnya, arsitektur bangunan rumah tradisional, seperti Joglo (Jawa), Gadang (Minangkabau), seni kerajinan tangan tradisional, pakaian tradisional, obat tradisional, alat-alat musik tradisional, peralatan dan senjata tradisional, makanan dan minuman tradisional daerah.

Dari konsep ini, jika jumlah desa di Nusantara sesuai data Badan Pusat Statistik (2018) ada 75.436 desa, maka bisa jadi jumlah folklor kita sangat melimpah. Jika tiap desa memiliki tiga jenis folklor dengan berbagai macam jenis, varian, dan subkultur, maka Indonesia adalah salah satu negara yang paling kaya akan folklor karena ada sekitar 226.308 jenis folklor.

Tapi, kini siapa yang peduli dan ngrumati folklor? Jelas, Temanggung menjadi salah satu bahkan satu-satunya daerah yang peduli dengan budaya Nusantara ini.

 

Nguri-nguri Budaya Lewat Folklor

Sebagai daerah yang berada di tengah-tengah Jawa Tengah, Temanggung selalu menyuguhkan dentuman besar lewat kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan pemerintah. Salah satunya Jifolk yang digelar pada 12 Juli hingga 14 Juli 2019 di Alun-Alun Temanggung. Rentetan kegiatan Festival Sindoro Sumbing ini dimulai sejak 9 Juni 2019 dengan Panggung Jaranan, 16 Juni 2019 Ngopi di Papringan, 25 Juni 2019 Sarasehan Budaya, 26-27 Juni 2019 Workshop Kostum Jaran Kepang, 6 Juli 2019 Pra-Event Jifolk, 12-14 Juli 2019 Jifolk, dan 19-20 Juli 2019 Sendratari Sindoro Sumbing.

Jifolk dikonsep sebagai acara pertunjukan folklor tingkat internasional dengan konsep kelestarian, kearifan lokal dan kolaborasi. Apakah hanya seremonial? Jelas tidak. Jifolk menjadi bagian dari gerakan kultural untuk nguri-nguri budaya di tengah gelombang era milenial ini. Apalagi, rumus literasi budaya tidak hanya pembelajaran, namun juga keteladanan dan pembiasaan atau pembudayaan. Jifolk menjadi bagian dari ketaladanan bagi daerah lain dan pembiasaan bagi masyarakat luas untuk mengenal dan mencintai produk budayanya sendiri.

Sesuai konsepnya, Jifolk menampilkan folklor dari berbagai jenis atau genre kesenian, dan kebudayaan daerah maupun internasional, yang dipentaskan di satu panggung. Kekayaan budaya rakyat dari berbagai daerah di Indonesia dan dari mancanegara menggemparkan Temanggung selama tiga hari. Selain dari Temanggung sendiri, ada tari barong Blora, lengger Banyumas, kethek ogleng Wonogiri, sasando Flores, kecak Bali, rampak kendang Jawa Barat,  ASEAN Contemporary Dance (Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Myanmar, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam).

Apa yang dilakukan Pemkab Temanggung ini menjadi gerakan nyata mengglobalkan folklor di kancah internasional. Sebab, saat ini sebenarnya “lokalitas lebih seksi” di mata dunia global. Pola pikir think globally, act locally (berpikir global, bertindak lokal) hakikatnya bisa disesuaikan dengan konteks budaya folklor di Nusantara ini. Artinya, think locally act globally, karena lokalitas, kearifan lokal jauh lebih tinggi nilai-nilai dan pesan kearifannya daripada konsep atau teori barat. Folklor dalam Jifolk ini menjadi bukti bahwa masih ada kepedulian terhadap kekayaan bangsa Indonesia yang penuh enigma.

Seperti contoh kegiatan Selametan Wiwit Tembakau “Merti Bhumi Phala” beberapa waktu lalu. Kegiatan ini mengangkat landmark bahwa Temanggung tidak hanya soal “Kota Tembakau” yang dominan wilayah ekonomi saja, melainkan juga budaya, tradisi, dan nilai-nilai kearifan lokal dalam tembakau itu sendiri.

Untuk itu, dari Jifolk harus melahirkan dampak besar lewat penyadaran akan pentingnya melestarikan nilai-nilai kearifan lokal yang tersirat maupun tersurat dalam folklor. Dalam risetnya, Ilminisa, dkk (2016) menyebut pendokumentasian folklor lisan yang memuat garis besar isi cerita dan nilai-nilai moral untuk mewujudkan pendidikan karakter bagi anak dan remaja untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Tentu penanaman nilai moral dengan bercerita akan lebih diingat anak dan diterapkan dalam kehidupannya.

Lebih-lebih, folklor yang tampil di Jifolk sangat beragam, tentu ini menjadi wahana untuk mengglobalkan folklor Temanggung, umumnya Jawa Tengah di kancah internasional. Pesan penting dalam Jifolk ini tidak sekada euforia semata, namun menjadi gerakan revolusioner untuk mengangkat folklor di kancal global. Folklor memang bukan segalanya, namun segalanya dapat berawal dari sana. Dus, kapan kita mengglobalkan folklor selain melalui Jifolk?

-Tulisan ini pernah diterbitkan di Majalah Bhumi Phala edisi Oktober 2019.

Add Comment