Waket I STAINU Jadi Narasumber di Balai Penelitian dan Pengembangan Agama

Share

Semarang, stainutmg.ac.id – Bertempat di Hotel Pandanaran Semarang, Wakil Ketua I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan STAINU Temanggung Hamidulloh Ibda didapuk menjadi narasumber dalam Rapat Penyusunan Tahap ke-1 Model Pengelolaan Agama pada Kuttab yang digelar Balai Penelitian dan Pengembangan Agama (BLA) Semarang, Senin (29/3/2021).

Ibda menjelaskan bahwa kuttab berasal dari Bahasa Arab. "Dalam draft yang saya susun, kuttab secara bahasa berasal dari istilah Arab, ka-ta-ba yang berarti menulis. Kataba ketika dilihat dengan menggunakan  wazan (pola) fu’aal menjadi kuttab yang secara harfiah berarti para penulis. "Pengertian ini saya rujuk dari Ensiklopedia Islam," papar dia.

Intinya, menurut Ibda, dalam Bahasa Arab, Kuttab dalam bentuk jamak yaitu kata’ib yang bermakna para penulis. "Sedangkan dalam bentuk mufrad, kuttab berarti tempat untuk belajar menulis. Istilah kuttab sering salah dipahami sebagai bentuk jamak dari kata al-katib (penulis). Istilah kuttab sudah populer sebelum Islam sebagai tempat pendidikan dasar para siswa belajar bahasa, tulis menulis, dan syair," beber Dewan Pengawas LPPL Temanggung TV tersebut.

Pendapat lain, lanjut Ibda, kata kuttab atau maktab berasal dari kata dasar kataba yang berarti menulis. Maka kuttab adalah tempat belajar menulis. Pengertian lain, kuttab diambil dari kata taktib yaitu belajar menulis; dan mengajar menulis itulah fungsinya kuttab.

Secara umum, kuttab dalam konteks pendidikan merupakan lembaga pendidikan yang sudah ada sejak pra Islam dan sampai Islam turun. Kemudian berkembang hingga saat ini dan menunjukkan beberapa fenomena menarik. Mulai dari kurikulumnya, gurunya, sistem pembelajarannya, metode dan juga materi pembelajarannya.

Dalam Ensiklopedi Islam, dijelaskan kuttab pada awalnya adalah lembaga pendidikan yang bertempat di masjid, rumah guru, yang hanya mengajarkan membaca, menulis dan berhitung. "Kemudian kini berkembang mirip sekolah dan madrasah, namun kuttab sendiri bukan sekolah maupun madrasah," tegas dia.

Dijelaskan Ibda, bahwa kuttab menjadi objek penelitian atau pengembangan yang menarik karena memiliki corak yang berbeda dengan lembaga pendidikan di Indonesia sesuai sistem pendidikan nasional.

"Kuttab yang ada di Indonesia, baik yang Al-Fatih, Ibn Abbas, Harun Al-Rosyid ini memiliki perbedaan dan corak dan lainnya berbeda dari kuttab pra Islam maupun masa Islam klasik. Maka ini butuh kajian litetatur dan lapangan mendalam agar menemukan model yang menarik," beber pengurus LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah tersebut.

Dikatakan pula, bahwa model pengelolaan kuttab nanti akan ditemukan ketika ada basis teori yang dikembangkan atau sudah diterapkan oleh lembaga pendidikan Islam yang lainnya. "Sehingga kita dapat menemukan kelebihan dan kekurangan dan kuttab itu sendiri ketika sudah menemukan model pendidikannya," beber Kabid Media Massa, Hukum dan Humas FKPT Jateng tersebut.

Peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang Dr. Aji Sofanudin, M.Si yang menjadi moderator menjelaskan bahwa kegiatan pengembangan yang dilakukan oleh tim nanti akan menjadi sebuah model dan dapat menjadi bahan literatur maupun rekomendasi bagi pemegang kebijakan.

Dalam kesempatan itu, hadir sejumlah peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang dan peserta lain. Hadir pula Dr. Ahwan Fanani, M.Ag pemateri kedua. (*)

Add Comment